Skip to content
Pernahkah anda berusaha memesan kentang goreng ukuran kecil di gerai cepat saji, tetapi sebagai balasannya, si pramusaji akan menawarkan pada anda ukuran yang di atasnya? Nah, hal yang sama tampaknya berlaku pada boba drink atau minuman-minuman kekinian yang sekarang jadi hits di antara generasi millenial. Atau, misal tidak ditawarkan secara langsung oleh si pramusaji, tetap saja harga yang dikenakan pada kemasan minuman yang lebih besar tamoaknya jadi lebih ‘irit’ sehingga kita ‘sayang’ untuk memilih pembelian cup kecil. Akan tetapi, pernahkan anda selain berhitung tentang jumlah rupiah yang dihemat, juga menghitung tambahan kalori yang masuk dalam sekali acara minum minuman boba?

Ya, tidak mengherankan jika minuman kekinian semacam boba/bubble tea, thai tea, cheese tea, kopi-kopian, dan lain-lain menjadi favorit generasi muda. Rasanya yang dominan manis, apalagi bila disajikan dingin, tentunya menggugah selera kita yang mencari kesegaran terutama di teriknya cuaca negara tropis seperti negara kita. Akan tetapi, konsumsi minuman-minuman tersebut secara berlebihan tentunya patut diwaspadai.

Seperti kita ketahui bersama, asupan gula atau kalori berlebih berkaitan erat dengan kejadian Diabetes Mellitus dan Penyakit Kardiovaskular. Data WHO tahun 2016 menyatakan bahwa di tahun 2010 ada 8,4% populasi orang dewasa Indonesia yang mederita diabetes. Angka ini diperkirakan melonjak menjadi hampir 3x lipatnya menjadi 21,3% pada tahun 2030. Pada level global didapatkan sekitar 422 juta penduduk dewasa menderita diabetes pada 2014, hampir 4x lipat lebih tinggi dibandingkan tahun 1980an dimana penderita diabetes terhitung ‘hanya’ sekitar 108 juta jiwa. Lebih lagi, selama beberapa dekade ini peningkatan kejadian DM terjadi lebih cepat di negara-negara berpenghasilan rendah sampai dengan menengah. Keseriusan masalah ini sepertinya telah menjadi atensi pejabat pemerintahan sampai-sampai timbul wacana dari menteri keuangan perihal pembebanan cukai pada minuman berpemanis ( Sugar Sweetened Beverages, SSB ) untuk mengerem laju permintaan akan SSB.
Perki Surabaya - Artikel - Boba Drink - Diabetes

Trend konsumsi gula masyarakat modern cukup tinggi. Orang dewasa sehat dengan status gizi cukup memerlukan rata-rata 30kcal per kg berat badan tubuhnya. American Heart Association, AHA merekomendasikan asupan gula harian bagi perempuan dewasa adalah sebesar 25 gram ( 6 sendok teh ) dan 38 gram ( 9 sendok teh ) bagi laki-laki. Di lain pihak, WHO menyarankan agar konsumsi harian yang berasal dari gula tidak melebihi 10% dari total kalori yang masuk. Dengan konversi 25 gram gula setara dengan kurang lebih 100 kcal dan asumsi berat badan orang dewasa antara 60-70 kg, maka dua rekomendasi di atas sebenarnya seirama.

Bagaimana dengan total kalori yang tersaji dalam tiap gelas minuman boba? Uji laboratorium atas beberapa merk SSB yang beredar di Singapura mengemukakan; minuman dengan ukuran regular (M) mengandung rata-rata 400 kcal, sedangkan gelas besarnya (L) mengandung sekitar 700 kcal. Suatu studi menyatakan bahwa konsumsi SSB sebanyak 1 liter atau ekuivalen dengan 2 gelas berukuran 16 ounce per hari selama 6 bulan dapat memicu timbulnya Sindroma Metabolik dan perlemakan hati ( fatty liver ).
Jadi, apakah boba dan minuman kekinian lain itu ‘berbahaya’? Berkaca dari hasil penelitian akan boba drink sebelum ini memang mengesankan boba dan minuman kekinian lainnya berbahaya bagi kesehatan. Namun, seperti pada umumnya prinsip konsumsi makanan dan minuman, yang menyebabkan penyakit ialah apabila konsumsinya dilakukan secara berlebihan. Semua tetap kembali pada porsinya. Boba dan SSB lainnya sah-sah saja dikonsumsi asal dosis kita menyantapnya tidak berlebihan, disesuaikan dengan kebutuhan kalori total per orang, dan diimbangi dengan makan makanan tinggi serat serta olahraga teratur.

Jika ada yang ditanyakan, silahkan menghubungi kami.

×